Minggu, 26 Mei 2013

Jangan Kau Tanggalkan Jilbabmu Ukhti...

Miris Aku melihat bayangan itu, bayangan yang begitu anggun tersenyum dalam fatamorgana yang kurasakan maya, tak nyata. Itu adalah cermin yang sudah retak,,kata hatiku, tapi apakah iya cerminnya yang retak, apa bukan bayangan itu yang sudah retak??
Kembali kumerenung, sesekali menyeka airmata yang tak terasa bulirnya jatuh membasahi pipiku. Aku kembali mengingat siapa sosok dalam cermin itu, sosok yang begitu angkuh, sombong, berhati-hati dalam bersikap, menjaga pandangannya yang sebening mutiara di dasar lautan yang dalam. Pandangan matanya sejuk, tutur katanya terjaga, dan kasih sayangnya selembut dan sehangat sinar mentari di pagi yang menakjubkan.
Bayangan dalam cermin itu, dulu terlindungi oleh jubah keimanannya yang sudah ia dapatkan dari Sang Maha Pemberi Hidayah. Aura kecantikan surgawi terpancar dari sikap, perilaku dan tutur katanya. Ia adalah mutiara yang terjaga. Yang tak mudah orang mengambil dan menyentuhnya.
Bayangan dalam cermin itu, dulu adalah orang terangkuh, pada semua orang yang tak berhak padanya. Namun keangkuhannya adalah benteng, bukan karena ia sombong. Bisa diibaratkan dulu ia laksana bunga mawar yang merekah indah namun berduri banyak, duri itu tentu bukan untuk menyakiti tapi tercipta untuk menjaga dirinya, dari tangan-tangan yang akan merusaknya atau membunuh keindahannya.
Namun kini, saat aku menatap bayangan itu, aku tidak mengenalinya lagi, Aku merasa asing padanya, sepertinya bukan yang dahulu. Sejenak kuhela nafasku, walau kadang terasa sangat sesak. Ya, kusadari kini, betapa lemahnya ternyata, betapa sulitnya ternyata, menjaga itu ternyata jauh lebih sulit dari memperolehnya. Getir menyaksikannya, bayangan itu telah menanggalkan mahkota indahnya, sepertinya ia terlena oleh dunia, dan ia menyadarinya. Kini, bayangan dalam cermin itu sepertinya tersiksa, dia sudah bukan lagi laksana mutiara, namun seperti batu hitam yang sangat berlumpur. Dunianya sudah berubah, banyak hal yang sudah mengubah cara berfikirnya, banyak hal yang sudah tidak bisa ia kendalikan lagi. Karena, bayangan itu memang sudah retak sekarang, sekali lagi bukan cerminnya yang retak, tapi bayangan itu sendiri yang telah hancur....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar